Lawang Kota Kenangan : Hotel Niagara Ikon Sepanjang Masa

 

Hotel Niagara di Lawang

Hari Selasa, 30 Desember 2025, rasanya memang hari yang tepat bagiku untuk  jalan-jalan menjelang tahun baru 2026. Jalan-jalan sekaligus meneliti bangunan-bangunan kuno yang tersebar di penjuru Kawasan Kota Lama Lawang. Yup, karena topik skripsiku juga berkaitan dengan bangunan bersejarah di Kawasan Kota Lawang. Sebuah Kecamatan paling utara Kabupaten Malang yang menjadi pusat permukiman bangsa Belanda di awal abad ke-20. Tak heran jika kini banyak tersebar bangunan kuno seperti Stasiun Lawang, Gereja Jago, Gedung Griya Bina, Villa Tawangsari, dan lain sebagainya.

Setelah membaca berbagai sumber tertulis—mulai dari penelitian terdahulu, koran, berita, hingga video—muncul satu nama yang digadang-gadang sebagai bangunan paling populer dan tersohor, sekaligus landmark utama kawasan ini adalah Hotel Niagara.

Hotel Niagara merupakan bangunan yang terletak persis di Jalan Raya Malang–Surabaya. Jika kita melintas di jalur tersebut, dari kejauhan bangunan ini tampak menjulang dengan gagah. Dan memang benar adanya, bangunan setinggi kurang lebih 35 meter ini pernah dinobatkan sebagai gedung tertinggi di Hindia Belanda pada masanya. 

Kembali ke cerita awal. Hari itu aku mengikuti sebuah tur Hotel Niagara. Rezeki memang tak ke mana-mana—aku mendapatkan informasi tur ini dari grup History Fun Walk Malang. Berbagai berita, katalog, hingga informasi tur dibagikan dengan cepat dan mudah di grup ini. Big thanks untuk Mas Jefferson, Mas Han, dan tak lupa Pak Akbar atas kesempatannya bersama komunitas sejarah.

Tur Hotel Niagara ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagiku. Bagaimana tidak, hanya dengan Rp75.000, aku berkesempatan menjelajahi bangunan yang menjadi saksi perkembangan Kota Lawang sejak awal abad ke-20.

Perjalanan dari Malang menuju Lawang memakan waktu sekitar 20 menit. Setibanya di area hotel, aku berniat memarkirkan motor di depan bangunan utama, namun seorang bapak-bapak mengarahkan agar parkir di bagian dalam. Tanpa disangka, parkiran motor ternyata berada di sisi utara bangunan hotel, tepat di selasar atau teras bangunan servis.

Di titik ini, rasa penasaranku semakin bergejolak, hehe. Bangunan servis tersebut masih menampakkan arsitektur khas Indische Empire, meskipun telah mengalami beberapa modifikasi akibat peremajaan. Namun gevel, bentuk pintu, dan kolom-kolomnya masih memancarkan kegagahan masa lalu.

Bangunan Hotel Niagara, Menjulang Setinggi 35 Meter

Bangunan servis Hotel Niagara, terletak di utara bangunan utama


Sesampainya di parkiran, aku sudah tidak sabar menapaki bangunan Hotel Niagara. Ambient-nya benar-benar terasa “kekunoan”. Dan ternyata memang berbeda—mata yang melihat langsung jauh lebih takjub dibanding sekadar melihat foto. Bangunan ini tampak begitu megah. Pintu masuknya tinggi, khas Indische Empire, dengan sentuhan pengaruh Tionghoa pada ornamen pintunya. Warna dinding dengan bata terekspos juga sangat unik—berbeda dari bangunan lama lain yang umumnya didominasi warna putih yang cenderung monoton.

Memasuki area lobi, kami disambut oleh Bu Tatik, pemandu yang akan menceritakan segala hal tentang Hotel Niagara. Kesan pertama memasuki hotel ini terasa sangat khas. Tidak seperti hotel pada umumnya yang mengedepankan kemewahan modern, Hotel Niagara justru menonjolkan keotentikan ornamen aslinya. Interior lobi masih mempertahankan detail-detail yang jarang sekali kutemui di bangunan lama lainnya. Plafon kayu dengan ukiran motif flora khas perpaduan Cina–Barat terlihat begitu indah. Di momen ini, aku benar-benar tidak berhenti memandangi setiap detail interiornya. Bangunan berusia lebih dari 100 tahun dengan interior yang masih utuh seperti ini sungguh langka.

Lobby Hotel Niagara

Detail Plafon Kayu, Masih Asli dan Sangat Terawat

Di awal tur, Bu Tatik menjelaskan bahwa bangunan ini awalnya merupakan villa milik keluarga Tionghoa kaya raya, milik seorang pengusaha gula bernama Liem Sian Joe. Bangunan ini dibangun sejak 1890-an dan memakan waktu sekitar 15 tahun—karena terdiri dari lima lantai, maka setiap lantainya dibangun dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun. Effort yang luar biasa. Bangunan ini akhirnya difungsikan pada awal tahun 1900-an sebagai villa peristirahatan keluarga Lien Sian Joe.

Arsiteknya adalah Ir. Fritz Joseph Pinedo, arsitek berkebangsaan Belanda yang juga merancang Kompleks Villa Tawang Sari di Lawang (kini menjadi kompleks militer Divisi Infanteri 2 Kostrad) serta eks Gedung CCCL Surabaya. Saat ini, Hotel Niagara dimiliki oleh pengusaha asal Surabaya, Bapak Ong Kie Tjai.

Tur berlanjut ke salah satu elemen paling ikonik: lift asli Hotel Niagara. Konon, lift ini merupakan lift pertama di wilayah Malang. Lift tersebut menggunakan mesin buatan ASEA dari Swedia, dengan kabin (car) produksi De Rooy & Co Surabaya, terbuat dari kayu jati dan masih utuh hingga kini. Meskipun sudah lama tidak berfungsi, lift ini tetap dirawat sebagai aset sejarah penting hotel.

Detail Lift Hotel Niagara

Lift Hotel Niagara, masih asli berbahan kayu jati

Perusahaan produsen car lift, De Rooy & Co. Soerabaia


Tak luput dari perhatian adalah kaca patri pada pintu-pintu ruangan. Kaca tersebut menampilkan motif flora dan inisial “LSJ”, singkatan dari Liem Sian Joe. Hebatnya, sebagian besar kaca masih utuh—tidak pecah atau retak—sehingga semakin memperkuat kesan kekunoan sekaligus estetika bangunan.

Pintu Besar Khas Bangunan Kuno, dilengkapi kaca patri di atas
Detail Kaca Patri di Pintu Ruangan


Jendela Bertuliskan "LSJ" Merujuk Pada "Liem Sian Joe", Pemilik Pertama Bangunan


Kami kemudian menaiki tangga menuju lantai dua. Fun fact lagi, setiap jendela di area tangga memiliki bentuk yang berbeda di setiap lantainya. Tangga lantai 1–2 memiliki jendela berbentuk persegi panjang dengan setengah lingkaran di bagian atas, sementara lantai 2–3 berbentuk persegi panjang dengan segitiga di bagian atas, dan seterusnya. Detail arsitektur ini menunjukkan betapa cermatnya perancangan bangunan ini—di tengah keterbatasan teknologi masa itu, estetika tetap menjadi perhatian utama sekaligus penanda lantai bagi penghuni.

Detail Tangga Bangunan


Jendela Berbentuk Setengah Lingkaran

Jendela Berbentuk Persegi Panjang

Jendela Berbentuk Persegi Panjang dengan sisi atas Setengah Lingkaran 


Di lantai dua, kami disambut ruang tengah yang dahulu berfungsi sebagai ruang keluarga. Ukurannya sangat besar, dengan plafon kayu berukir yang kembali membuatku terpukau. Hampir lupa, setiap lantai—bahkan setiap kamar—memiliki motif lantai dan keramik dinding yang berbeda. Lantai bangunan ini menggunakan teraso, material dari campuran bebatuan dan pewarna yang dipoles hingga halus, menghasilkan tampilan artistik yang memanjakan mata. Perawatannya pun sederhana: cukup dibersihkan dengan air, tanpa sabun atau pewangi, dan lantai akan tetap mengilap serta awet hingga ratusan tahun.

Keramik dinding pun tak kalah menarik—di satu kamar berwarna hijau, di kamar lain bisa berwarna biru. Detail seperti ini jarang ditemui pada bangunan masa kini yang lebih mengutamakan fungsionalitas dibanding estetika. Meski demikian, beberapa keramik dinding di beberapa kamar memang ada yang terlepas akibat usia dan dampak gempa bumi.

Lantai Teraso Bangunan Hotel, Setiap Ruangan berbeda motif

Detail Lantai


Lantai Bertuliskan "LSJ", Inisial Pemilik Pertama Bangunan

Detail Ruangan dengan Pintu Besar, Lantai Teraso dan Keramik di dinding bangunan

Detail Keramik Dinding Bangunan

Detail Keramik Dinding Bangunan
Salah Satu Kamar Hotel, Terasa Sangat Lega dan Nyaman

Salah Satu Kamar Hotel, terlihat motif keramik di lantai dan dinding masih asli dan dipertahankan

Setiap kamar berukuran sekitar 5×6 meter—ukuran yang pada masa kini bahkan setara dengan rumah tipe kecil. Setiap kamar dilengkapi balkon, jendela lebar, serta kaca patri yang masih asli. Sungguh menawan.

Tur berlanjut ke lantai empat. Perlu diketahui, lantai yang difungsikan sebagai hotel saat ini hanya lantai 1, 2, dan 3. Sementara lantai 4 dan 5 masih kosong dan dalam tahap renovasi, dengan rencana akan dikembangkan menjadi kamar hotel. Di lantai empat inilah terjawab mitos tentang kamar yang tidak boleh dimasuki. Kamar tersebut merupakan ruang sembahyang milik pemilik bangunan, sehingga disucikan dan tidak diperkenankan dimasuki atau didokumentasikan tanpa izin.

Di belakang ruang sembahyang, terdapat ruangan luas yang dahulu difungsikan sebagai ruang makan. Hal ini terlihat dari bekas lubang berbentuk bulat di lantai, tempat kaki-kaki meja makan tertancap. Tak terbayangkan betapa nikmatnya bersantap di ruangan semewah itu pada masanya.




Kamar Mandi di salah satu sisi Bangunan, Bak mandi dan jendela masih asli

Puncak tur membawa kami ke rooftop. Sesampainya di atas, rasanya seperti berada di puncak bukit. Hotel Niagara hingga kini masih menjadi bangunan tertinggi di Lawang, sehingga panorama kota dapat terlihat jelas—mulai dari Jalan Raya Malang–Surabaya, Mata Air Kalibiru, Kompleks Villa Tawang Sari, hingga Gunung Arjuno. Angin sejuk yang berhembus kencang menambah kesyahduan suasana. Terbayang, sang pemilik dahulu mungkin menghabiskan sore hari di rooftop ini, menyaksikan lalu lalang kereta api, pedagang, dan penduduk sekitar.

Di rooftop ini juga terdapat tandon air berbentuk oval dari bata semen yang masih asli. Luar biasa.

Tampak dari kejauhan Gunung Arjuno

Setelah puas berfoto dan menikmati panorama, kami diajak turun dan disuguhi sarapan nasi goreng khas Hotel Niagara di restoran lantai satu. Menyantap hidangan di ruang dengan meja, kursi, dan atmosfer antik seperti ini sungguh pengalaman yang sulit dilupakan. Ditutup dengan segelas es teh manis yang menyegarkan, tur pun diakhiri dengan foto bersama.


Nasi Goreng khas "Hotel Niagara"

Ruang Restoran Lantai 1 Hotel Niagara 


Terima kasih, Hotel Niagara, telah memberi kami kesempatan menjelajahi Ikon Kota Lawang. Semoga wujudmu tetap bertahan sepanjang masa sebagai warisan sejarah dan arsitektur Indonesia.

Fachri EA, 2025

|Seluruh gambar dalam artikel ini adalah dokumentasi pribadi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Jalur Lori Pabrik Gula Jenar

Riwayat Pabrik Gula Colomadu Karanganyar